TERNATE, KAIDAH MALUT – Perayaan dua hari raya keagamaan yang berdekatan pada Maret 2026, menjadi momentum penting untuk memperkuat toleransi dan kerukunan antarumat beragama, khususnya di Provinsi Maluku Utara.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Maluku Utara, Adnan Mahmud, mengatakan, pada saat umat Islam bersiap mengakhiri ibadah puasa Ramadhan, umat Hindu juga merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka pada 19 Maret 2026.
“Momentum ini seharusnya menjadi tonggak untuk menebarkan kasih sayang, membangun kerukunan, dan memperkuat kedamaian di Maluku Utara, khususnya di Kota Ternate yang majemuk,” kata Adnan Mahmud, Selasa, 17 Maret 2026.
Adnan Mahmud yang juga sebagai Rektor IAIN Ternate ini menuturkan, nilai-nilai yang diajarkan di akhir Ramadhan, mengandung pesan kuat tentang kepedulian sosial dan penghormatan terhadap sesama manusia.
Menurut dia, semangat berbagi yang diajarkan dalam Islam tidak hanya berdimensi ibadah, tetapi juga memperkuat solidaritas dan penghargaan terhadap perbedaan di tengah masyarakat.
Ia pun mengajak umat Islam untuk menghormati pelaksanaan Hari Raya Nyepi dengan menjaga ketenangan, terutama di wilayah yang berdekatan dengan tempat ibadah umat Hindu.
“Kami mengimbau umat Islam, khususnya yang berada di sekitar pura, agar tidak membunyikan pengeras suara atau memutar pengajian keluar pada 19 Maret mulai pukul 06.00 hingga 18.00 waktu setempat, sebagai bentuk penghormatan kepada saudara-saudara kita umat Hindu,” kata Adnan.
Lebih lanjut, Doktor Adnan Mahmud menyatakan pentingnya menjaga keamanan dan keharmonisan lingkungan, sebagai tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
Menurut dia, terciptanya suasana aman dan damai akan memberikan ruang bagi umat beragama untuk menjalankan ibadah dengan khusyuk dan tenang.
“Keamanan bukan hanya tugas aparat kepolisian, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai warga masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, dengan menciptakan lingkungan yang kondusif, masyarakat juga turut membantu tugas aparat dalam menjaga ketertiban dan memberikan rasa aman.
“Ketika lingkungan aman dan damai, umat beragama dapat menjalankan ajaran agamanya dengan penuh kekhusyukan,” tandasnya. (*)
(Ruslan Sangadji)

Tinggalkan Balasan