TIDORE, KAIDAH MALUT – Seperempat abad berdiri, Universitas Nuku memasuki fase baru. Tantangannya bukan lagi sekadar mempertahankan eksistensi, tetapi memastikan perguruan tinggi tersebut mampu meningkatkan mutu akademik, tata kelola, riset hingga inovasi yang berdampak bagi masyarakat dan pembangunan daerah.
Pesan itu mengemuka dalam Dies Natalis ke-25 Universitas Nuku yang digelar di pelataran kampus Universitas Nuku, Kelurahan Gamtufkange, Kota Tidore Kepulauan, Senin, 28 September 2026.
Wali Kota Tidore Kepulauan yang diwakili Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan dan Keuangan, Abdul Hakim Adjam, mengatakan usia 25 tahun merupakan perjalanan panjang yang diwarnai pengabdian, perjuangan dan kontribusi Universitas Nuku dalam mencerdaskan generasi serta mendukung pembangunan daerah.
Menurutnya, pemerintah daerah memandang perguruan tinggi sebagai mitra strategis dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, Universitas Nuku, dunia usaha dan masyarakat perlu terus diperkuat.
“Dengan memiliki kekompakan yang erat tentunya kita akan semakin kuat dan optimis untuk menghadapi masa depan,” kata Abdul Hakim saat membacakan sambutan Wali Kota.
Ia berharap memasuki usia yang semakin matang, Universitas Nuku dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat maupun daerah.
Abdul Hakim juga menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai generasi yang akan menentukan arah masa depan daerah. Mahasiswa didorong untuk terus belajar, berinovasi, menguasai teknologi dan berani memiliki cita-cita besar.
“Jangan takut bermimpi besar, agar menjadi generasi yang mampu membawa perubahan positif bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan daerah,” ujarnya.
Universitas Nuku Diminta Naik Kelas
Sementara itu, Ketua Yayasan Universitas Nuku, Asgar Ari Akbar, menegaskan usia 25 tahun tidak boleh hanya dimaknai sebagai pencapaian untuk melihat perjalanan masa lalu.
Menurut Asgar, seperempat abad harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan dan membawa Universitas Nuku ke level yang lebih tinggi.
“Universitas Nuku tidak boleh berhenti hanya karena telah bertahan selama seperempat abad. Kita harus naik kelas,” tegas Asgar.
Ia menyebut sejumlah pekerjaan penting yang harus diperkuat, mulai dari tata kelola perguruan tinggi, peningkatan mutu akademik, hingga penguatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Asgar menilai Universitas Nuku lahir dari cita-cita besar untuk membuka akses pendidikan tinggi bagi anak-anak negeri di wilayah kepulauan. Karena itu, keberadaan kampus tersebut harus terus diarahkan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan tantangan pembangunan di wilayah kepulauan.
“Dua puluh lima tahun bukan sekadar angka, namun sebuah perjalanan panjang tentang pengabdian, perjuangan dan harapan,” katanya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pendiri, pimpinan terdahulu, pemerintah daerah, dosen, tenaga kependidikan, alumni, mahasiswa, dunia usaha, tokoh masyarakat serta berbagai pihak yang telah berkontribusi dalam perjalanan Universitas Nuku.
Bawa Spirit Nuku ke Inovasi Kepulauan
Momentum Dies Natalis ke-25 sekaligus digunakan Universitas Nuku untuk meluncurkan visi periode 2026-2030.
Universitas Nuku menetapkan visi menjadi “Universitas Penggerak Inovasi Kepulauan yang Tangguh, Lestari dan Sejahtera Berlandaskan Spirit Nuku.”
Peluncuran visi tersebut ditandai dengan pemukulan tifa.
Rangkaian Dies Natalis diawali jalan sehat dari Pantai Tugulufa menuju kampus Universitas Nuku.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Rektor Universitas Nuku, unsur Forkopimda Kota Tidore Kepulauan atau yang mewakili, pimpinan OPD, instansi vertikal, civitas akademika, alumni dan mahasiswa Universitas Nuku.
Dengan peluncuran visi baru tersebut, usia 25 tahun Universitas Nuku kini menjadi titik awal untuk menguji sejauh mana kampus mampu menerjemahkan semangat “inovasi kepulauan” ke dalam mutu pendidikan, penelitian, pengabdian dan kontribusi nyata bagi masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan