Oleh: Ruslan Sangadji/Pemerhati Sosial dan Politik
TIDAK semua keputusan penting lahir di forum megah. Kadang, arah besar sebuah partai justru ditentukan dalam percakapan sederhana, tanpa panggung, tanpa kamera, namun mengikat kuat dalam ingatan mereka yang hadir.
Di ruang semacam itulah Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, menyebut satu nama secara tegas dan tanpa ragu: Anjas Taher harus maju memimpin Golkar Maluku Utara. Kalimat itu bukan basa-basi politik. Itu adalah mandat.
Dalam tradisi partai, perintah lisan dari seorang ketua umum, bukan ucapan ringan yang bisa diabaikan. Ia memiliki bobot, arah, dan konsekuensi. Terlebih di saat organisasi membutuhkan kepastian dan keberanian menentukan haluan. Pada titik itulah, kalimat sederhana berubah menjadi penegasan politik.
Di Maluku Utara, ada ungkapan yang keras tetapi jelas maknanya: “Pele Putus Malintang Patah.” Satu pesan tegas, jangan halangi jalan yang sudah semestinya terbuka. Ungkapan ini seperti alarm politik, sebuah pengingat bagi siapa pun yang mencoba memutar arah ketika garis seharusnya sudah lurus.
Nama Anjas Taher lahir dari proses, bukan kebetulan. Dua periode menjabat Wakil Bupati Halmahera Timur, dibesarkan oleh kultur organisasi HMI, memahami struktur, jaringan, dan karakter Maluku Utara hingga ke lapisan paling bawah. Maka ketika Bahlil Lahadalia langsung menyebut namanya, itu berarti ada kepercayaan, ada desain politik, ada tanggung jawab yang hendak dititipkan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Musyawarah Daerah Partai Golkar Maluku Utara belum kunjung digelar. Waktu bergerak, agenda politik datang dan pergi, tetapi Musda tetap tertahan meski tingga menunggu waktu.
Dalam proses penantian itu, cerita tentang perintah lisan tersebut justru tumbuh semakin kuat. Ia berpindah dari satu ruang percakapan ke ruang lainnya, hidup sebagai narasi politik yang dipercaya. Mandat yang tak tercetak tinta, tetapi diikat moral “fatwa” sang ketua umum.
Di tengah itu semua, Anjas Taher memilih diam. Namun itu bukan diam yang lemah, melainkan diam yang tenang dan terukur. Ia tidak menabuh genderang klaim, tidak menekan keadaan, tidak menggunakan rumor sebagai alat gertak. Kesabarannya adalah bentuk keyakinan politik: bahwa tidak semua jalan harus ditempuh dengan gaduh.
Di sinilah ungkapan “Pele Putus Malintang Patah” menemukan maknanya. Ketika arah sudah jelas, mereka yang menghalangi bukan lagi sekadar berbeda strategi, tetapi sedang bermain di wilayah yang berpotensi melukai masa depan organisasi.
Masalah Golkar Maluku Utara hari ini, bukan hanya soal siapa yang akan duduk sebagai ketua. Ini lebih besar: tentang keberanian partai menghadapi dirinya sendiri. Tentang kesanggupan menghentikan intrik yang menahan langkah. Tentang kemampuan menempatkan kepentingan organisasi di atas ego personal.
Saat Musda itu akhirnya benar-benar digelar, dan pada waktunya ia akan digelar, kader beringin dan publik Maluku Utara akan mencatat. Mereka akan melihat siapa yang sejak awal membaca arah dengan jernih, siapa yang memilih menunggu dengan kepala tegak, dan siapa yang berdiri sebagai penghalang di jalan yang sebenarnya telah ditunjukkan.
Pada akhirnya, sejarah partai selalu punya cara paling tegas untuk menilai. Ia tidak pernah berpihak kepada mereka yang gemar menghambat. Ia hanya berpihak pada mereka yang berani membuka jalan. (*)

Tinggalkan Balasan