Oleh: Ruslan Taher Sangadji (“Fans” Tete Ali)
ADA DUA TULISAN yang beredar luas di berbagai grup WhatsApp, pasca penjemputan Tete Ali di Ternate dengan tarian Soya-Soya. Kedua tulisan itu membuat saya berpikir ulang, tentang satu hal yang sedang ramai diperbincangkan di jagat maya: fenomena Tete Ali.
Tulisan pertama berjudul: Tete Ali dan “Kata-Kata Kasar” yang Disalahpahami, ditulis oleh Muhammad Tabrani, seorang praktisi hukum dan dosen. Tulisan kedua berjudul Diksi yang Tergelincir: Ketika Makian Viral, Jadi Tontonan dan Tertawaan, ditulis oleh Husain Ali, Asisten I Sekretariat Kabupaten Halmahera Tengah.
Keduanya mencoba memotret ulang bagaimana publik menyikapi viralnya Tete Ali, yang dikenal karena gaya bicara dan ekspresi spontan khas Maluku Utara. Dua pendekatan yang berbeda, satu meneduhkan, satu mengingatkan. Dua sudut pandang yang kontras, namun keduanya penting dan patut dihargai.
Muhammad Tabrani mencoba menjernihkan suasana. Ia tidak tergesa-gesa menjatuhkan penilaian. Sebagai orang yang paham hukum dan konteks sosial, ia memahami, dalam budaya lokal, kata-kata keras tak selalu berarti kekerasan verbal. Bisa jadi bentuk sapaan akrab, candaan, bahkan ekspresi kasih yang dibungkus dalam gaya tutur yang keras namun tulus.
Sebaliknya, Husain Ali menulis dari sudut pandang birokrasi dan etika publik. Ia mengingatkan, ekspresi verbal di ruang digital harus disadari sebagai bagian dari tanggung jawab sosial. Ketika sudah menjadi konsumsi publik lintas budaya, lintas usia, dan lintas nilai, maka pilihan kata perlu lebih dijaga.
Namun di antara dua sudut pandang tersebut, saya melihat satu kenyataan yang jauh lebih penting: zaman telah berubah, dan kita tidak bisa menghindar darinya.
Suka tidak suka, kita semua telah masuk ke dalam pusaran perubahan itu. Media sosial bukan lagi sekadar tempat berbagi, melainkan sudah menjadi panggung utama budaya populer. Siapa saja bisa tampil, siapa saja bisa menjadi sorotan, hanya karena satu cuplikan video pendek di TikTok.
Tete Ali adalah contoh nyata. Ia bukan tokoh publik, bukan selebritas. Ia hanya seseorang yang terekam, sedang mengekspresikan dirinya dengan cara yang khas, sebagaimana lazim kita temui dalam kehidupan sehari-hari di Maluku Utara. Namun ketika video itu masuk ke media sosial, segalanya berubah. Ia menjadi viral. Ia menjadi bahan tertawaan, sekaligus bahan perdebatan.
Kita perlu menyadari bahwa tidak semua yang viral layak ditertawakan, dan tidak semua kata-kata kasar dan keras patut dimusuhi. Di banyak daerah di Indonesia bagian timur, diksi seperti itu adalah bagian dari laku sosial. Kadang terdengar kasar, tapi sering kali tanpa niat melukai, justru menjadi tanda keakraban atau ekspresi jujur dari suasana hati.
Masalahnya, media sosial tidak bisa membaca konteks. Algoritma hanya tahu mana yang menarik perhatian, bukan mana yang benar atau bermakna. Di sinilah ilmu permakluman menjadi penting. Bukan sekadar memaafkan, tetapi kemampuan untuk membaca makna sebelum menghakimi, memahami konteks sebelum mencela. Kita perlu kebijaksanaan baru dalam menghadapi dunia digital dan perkembangan teknologi yang serba cepat ini.
Sebagaimana peringatan dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” sebuah ajakan mendalam untuk menjaga lisan, menjaga sikap, dan tidak mudah tergelincir dalam menilai sesama, apalagi berdasarkan potongan-potongan video yang tidak utuh.
Tete Ali hanyalah cermin dari masyarakat kita yang sedang bergulat dengan perubahan zaman. Ia bukan musuh, bukan ancaman moral. Ia justru menjadi pintu masuk untuk berdiskusi ulang: bagaimana seharusnya kita menyikapi ledakan budaya digital yang tidak memiliki mazhab tetap, dan tidak punya batas norma yang baku.
Di ruang ini, yang jujur bisa disalahpahami, yang lucu bisa dianggap kasar, dan yang biasa bisa mendadak jadi viral.
Saya sendiri, sebagai salah satu “fans” Tete Ali, mengikuti hampir semua kontennya. Baik lewat video pendek maupun siaran langsung TikTok-nya yang sering kali spontan, polos, dan sangat jujur. Ada kegembiraan, ada keluguan, dan ada kejujuran yang hari ini justru jarang kita lihat di layar kaca.
Maka, mungkin sudah saatnya kita berhenti memperdebatkan siapa yang benar atau salah. Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa menumbuhkan kepekaan dan kebijaksanaan baru, agar kita tak menjadi masyarakat yang mudah tersulut tapi miskin makna. Karena pada akhirnya, bukan hanya Tete Ali yang sedang diuji oleh zaman ini, tetapi kita semua. (*)

Tinggalkan Balasan