Jumat, 23 Februari 2024

21 Bulan Nahkodai Ternate, Akademisi Bilang Tauhid dan Jasri Kurang Nonton “Tom and Jerry”

Tiga Akademisi dalam dialog terbuka IMM Ternate, Herman Oesman, Kasman Hi. Ahmad dan Agusmawanda (Foto: Nita/Kaidahmalut)

TERNATE, KAIDAH MALUT – Tiga Akademisi menyoroti kinerja Wali Kota, M Tauhid Soleman dan Wakil Wali Kota, Jasri Usman dalam memasuki dua tahun kepemimpinan di Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate.

Pasca dilantik pada tanggal 26 April 2021 lalu, pasangan dengan akronim TULUS ini dinilai belum maksimal dalam menjalankan visi misi Ternate Andalan (Mandiri dan Berkeadilan).

Hal tersebut diungkapkan ketiga Akademisi, di antaranya Herman Oesman, Kasman Hi. Ahmad, dan Agusmawanda dalam dialog terbuka dengan tema “Menimbang Visi Misi Andalan Antara Harapan dan Kenyataan”.

Diskusi terbuka yang diinisiasi oleh pengurus cabang Ikatan Muhammadiyah (IMM) Kota Ternate itu, dilaksanakan pada Jumat, 14 Januari 2023, di Kedai kopi Sabeba Ternate, yang dipandu moderator, Darman Leko.

Menurut ketiganya, Tauhid dan Jasri belum ada capaian yang signifikan, jika disandingkan dengan visi misi Andalan yang digadang-gadangkan keduanya, agar bisa merubah Kota Ternate lebih baik.

Selama 21 bulan menahkodai Kota Ternate, sejumlah pembangunan gencar dilakukan, perombakan jabatan struktural sampai pada penanganan sampah, air dan pasar yang sampai saat ini belum memiliki kepuasan bagi masyarakat Kota Ternate.

Hal itu terlihat dengan terbengkalainya bangunan multiyears, seperti Plaza Gamalama Modern dan Sport Hall yang terletak di Kelurahan Ubo Ubo. Padahal kedua aset daerah tersebut memiliki sumber pendapatan yang menjanjikan, apabila dikelola dengan baik.

Alih-alih memperoleh keuntungan, malah bangunan seperti Plaza Gamalama Modern justru membuat hutang, semakin membengkak. Mulai dari pemasangan meteran listrik berskala besar, namun tak difungsikan sampai pada pembiaran pemerintah dengan tidak segera menyelesaikan, administrasi atau tunggakan baik itu tagihan listrik Plaza sebesar Rp108,4 juta maupun sisa retensi sebesar Rp1,1 miliar kepada pihak rekanan.