Jumat, 14 Juni 2024
Tikep  

Harnus 2023, Pemkot Tidore Gelar Seminar Nasional Jalur Rempah

Seminar Nasional Jalur Rempah di Tidore (Humas/Kaidahmalut)

Tidore dan Papua memiliki sebuah keterkaitan yang tak bisa dilepaskan begitu saja, ketika Papua masuk menjadi bagian dari NKRI, Tidore menjadi ibu kota sementara saat itu dengan Gubernur pertamanya, Sultan Zainal Abidin Syah yang dilantik langsung oleh Presiden pertama RI Ir. Soekarno.

Momen tersebut pun masih tersimpan baik di lembaga Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI), dan beberapa juga sudah tersimpan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tidore Kepulauan.

“Dengan wilayah yang kecil, Tidore memiliki jejak masa lalu dan prestasi yang akan selalu abadi dalam karya. Semoga semangat ini akan menjadi sebuah contoh untuk generasi muda agar selalu bangga akan negeri tercinta ini, ingatlah bahwa negeri ini begitu besar dan kaya, sehingga butuh uluran tangan dan pikiran dari semua pihak untuk bangkit bersama dalam rasa nasionalisme Indonesia jaya. Semoga dengan seminar ini, akan terbangun sebuah semangat baru untuk kita masyarakat nusantara, agar lebih menghargai sejarah yang kita miliki, serta mampu berdiri dengan warisan yang kita miliki, dan cukup mengenal dengan baik akan negeri tercinta ini, sehingga dapat dikelola dengan sebaik mungkin,” harap Ali.

Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Perwakilan Provinsi Maluku Utara Kuswanto mengatakan, kegiatan seminar Nasional Jalur rempah ini didedikasikan pada pelaksanaan Hari Nusantara di Kota Tidore.

Tentunya yang paling penting adalah seminar ini juga, dalam rangka memperingati Hari Rempah Nasional yang jatuh pada tanggal 11 Desember.

“Hari Rempah Nasional ini diangkat tanggal 11 Desember. Pada dasarnya dari Tidore bahwa pada tanggal 11 Desember tahun 1521, terdapat 27,3 ton cengkeh yang diekspor dari Tidore ke Eropa sehingga dari situlah, setiap pada tanggal 11 Desember diperingati sebagai Hari Rempah Nasional,” kata Kuswnto.

Kuswanto bilang, dari sisi sejarah, Tidore sangat berperan penting di masa lalu terkait dengan perdagangan rempah, karena perdagangan rempah di Tidore saat itu sudah sangat mendunia, sehingga semua pedagang asing yang datang ke Maluku Utara untuk mencari rempah-rempah. Inila, lanjut dia, yang akhirnya menimbulkan sebuah jalur yang kini dikenal sebagai jalur rempah. (*)