Rabu, 24 April 2024

Pembuatan Tetrapod Pelabuhan Hiri Dimulai. Estimasi Waktu 45 Hari Bakal Meleset

Pengerjaan rangka besi tetrapod mulai dilakukan | Foto : Nita/Malut Kaidah

TERNATE, KAIDAH MALUT – Pembuatan tetrapod untuk talud penahan ombak Pelabuhan Pulau Hiri di Kelurahan Sulamadaha, Kecamatan Ternate Barat, mulai dikerjakan.

Amatan malut.kaidah.id, Ahad, 28 November 2021, pengerjaan dimulai dengan pembuatan rangka tetrapod oleh pihak kontraktor.

Berdasarkan data yang dihimpun malut.kaidah.id, pembangunan talud ini dikerjakan oleh CV Diyacel Sejati dengan biaya sebesar Rp1.184.369.000 yang bersumber dari APBD, dengan estimasi pengerjaan selama 45 hari.

Mustam Fabanyo selaku pengawas saat ditemui mengaku, pengerjaan rangka besi tetrapod sudah berlangsung 4 hari dan baru 7 buah rangka besi tetrapod yang jadi.

Ia sendiri mengaku, tidak bisa memastikan dalam waktu 45 hari rangka besi tetrapod bisa selesai. Pasalnya, untuk target yang diberikan Pemkot Ternate, yakni 600 buah tetrapod. Sementara tenaga pekerja yang dipakai ada 10 orang.

“Ini tergantung orang kerja, karena cepat atau lambat, tergantung orang kerja jadi tidak boleh pakai target, karena pasti ada kendala,” ungkapnya.

Disentil soal ketersediaan mal atau cetakan untuk tetrapod, ia bilang masih dalam proses pembuatan. Kalau semuanya dikumpulkan pada lokasi yang sama, maka tidak cukup.

“Malnya sudah ada di gudang dan tinggal rangkanya, baru kita mulai cetak, di sini tempatnya sempit. Makanya diselesaikan semua rangka dulu baru malnya dibawa ke sini lalu kerja cor,” ujarnya.

Terpisah, Pemilik CV Diyacel Sejati, Gajali Muhidin saat dihubungi via telepon mengaku, pembuatan mal model tetrapod sangatlah baru bagi Ternate, bahkan se Maluku Utara, maka itu, pihaknya terpaksa mengorder di Manado.

“Model begini baru juga, makanya kita pesan di Manado, bisa juga pesan di Surabaya cuma saya khawatir pengirimannya terlambat,” akunya.

Ia memastikan pekan depan pesanan tersebut sudah tiba di Ternate, sehingga saat ini pekerjanya sedang fokus pembuatan rangka besi.

“Minggu depan barang sudah ada, jadi saat ini kita bikin rangka dulu, biar mal datang langsung cor saja,” kata Gajali.

Ia sendiri menargetkan untuk pengecoran mal dalam sehari 15 buah, sehingga jika estimasi pekerjaan selama 45 hari, target 600 buah tetrapod bisa terpenuhi.

Untuk biaya operasional, ia mengaku masih menggunakan uang pribadi. Lantaran, Senin, 29 November 2021 besok ia baru akan mengajukan permohonan uang muka sebesar 20 persen.

Ia membeberkan, untuk anggaran besi, tukang dan biaya konsumsi pekerja sudah menghabiskan lebih Rp50 juta. Belum lagi, lokasi pekerjaan untuk membuat rangka besi sekaligus penampungan tetrapod nanti merupakan tanah milik pribadi dan bukan milik Pemkot Ternate. Dengan begitu, ia pun harus mengambil jalan keluar dengan menyewa dua kavling tanah milik warga setempat selama 1 tahun ke depan.

“Saya kira ini tanah milik pelabuhan atau milik Pemkot padahal ini milik warga. Jadi mereka minta disewa, dan saya akhirnya ambil jalan dengan sewa tanah. Satu kavling Rp10 juta dan satunya lagi bagian atas Rp7,5 juta jadi total Rp17,5 juta per tahun, tapi karena saya belum dapat uang muka jadinya saya hanya berikan uang tanda jadi Rp500 ribu dulu,” bebernya.

Meski begitu, ia berharap tidak ada keterlambatan pada mal tetrapod. Agar pengerjaannya bisa segera dilakukan dan capaian target bisa tercapai sesuai kontrak kerja.

“Ini memang estimasinya 45 hari tapi mungkin akan lewat sedikit, karena anggaran pemasangannya baru diadakan lagi di tahun depan,” tandasnya. *