Kamis, 13 Juni 2024

Tradisi Gendang Sahur, Bernilai Seni dan Sosial

Dokumentasi gendang sahur di Ternate (Foto: Istimewa/Kaidahmalut)

TERNATE, KAIDAH MALUT – Salah satu tradisi di bulan Ramadan yang tak bisa terlewatkan, yakni gendang sahur. Gendang sahur adalah tradisi membangunkan warga untuk sahur.

Gendang sahur biasanya dilakukan sekelompok anak-anak muda, dengan memainkan alat musik tradisional. Selain memainkan alat musik, mereka juga menyanyikan lagu-lagu bernuansa religi.

Memainkannya pun dilakukan beramai-ramai, dari satu gang ke gang lainnya, bahkan ada pula yang menggunakan gerobak juga mobil pick up.

Alat-alat musiknya seperti gitar, keyboard, gendang, rabanna, sound system dan seruling. Sekali-kali, ada pula yang menggunakan jasa penyanyi qasidah agar suasana gendang sahur, semakin bersemangat.

Tradisi ini hampir dilakukan di seluruh pelosok Indonesia, termasuk di Kota Ternate yang sampai sekarang tetap mempertahankan tradisi tersebut.

 Lantunan syair yang dinyanyikan saat gendang sahur, ada yang pakai Bahasa Indonesia ada juga Bahasa daerah.

Dengan gendang sahur, dipercaya warga biasanya bangun dan tidak akan ketinggalan waktu sahurnya.

Kegiatan bernilai positif ini sering dilakukan pemuda-pemudi di Ternate. Biasanya mereka memulai gendang sahur di pukul 02.00 sampai 04.00 dini hari.

Selain memiliki nilai seni, gendang sahur juga memiliki nilai sosial karena membantu orang agar tidak terlambat sahur.

Kesempatan ini pun sering dijadikan momen untuk menggalang dana. Uang hasil dari gendang sahur, biasanya digunakan untuk pengembangan tradisi gendang sahur, seperti membeli alat musik yang masih kurang, atau ada pula yang menyumbangkan ke masjid.

Jika anda belum pernah merasakan momen Ramadan di Ternate, ini juga bisa menjadi salah satu alternatif penyemangat berpuasa di Kota Bahari. Anda juga bisa ikut terlibat di gendang sahur, sehingga bisa ikut Bersama merasakan keindahan dan keberagaman yang ada di Ternate. (*)